Interaksi Sosial Dalam Sosiologi
INTERAKSI SOSIAL DALAM SOSIOLOGI
ABSTRAK : Manusia adalah makhluk sosial. Di dalam
dirinya terdapat hasrat untuk berkomunikasi, bergaul, dan bekerja sama dengan
orang lain. Hasrat ini timbul bukan hanya karena kebutuhan lahiriah, melainkan
karena hasrat itu sendiri; bahwa ia butuh berkomunikasi, bergaul, dan bekerja
sama dengan orang lain. Karena itulah, interaksi dengan orang lain merupakan
kebutuhan mendasar dalam diri manusia. Setiap manusia berkenalan, bekerja sama,
berorganisasi, bersaing, bahkan berkonflik untuk mendapatkan sesuatu. Dari
sudut pandang sosiologi, hubungan- hubungan seperti itu disebut interaksi
sosial.
Kata Kunci: Interaksi, Sosial, Sosiologi
Perkembangan teknologi informasi bisa dimaknai juga sebagai ancaman bagi
kehidupan sosial manusia. Kehadiran media sosial yang dianggap menjadi pintu
bagi masuknya arus informasi ternyata bisa mengurangi terjadinya proses
interaksi sosial. Ruang-ruang publik yang selama ini menjadi tempat bertemunya
individu dari berbagai latar belakang, semakin jarang ditemukan. Dahulu, orang-orang
tua biasa berkumpul di berbagai forum tidak resmi yang ada di lingkungan- nya.
Orang desa misalnya, sering bertandang ke tetangganya pada malam hari hanya
untuk berbincang-bincang santai hingga larut malam. Selain di rumah tetangga,
bisa pula dilakukan di poskamling, tempat hajatan, dan lain-lain. Fenomena
sosial itu semakin sulit kita temui saat ini. Dengan berbagai alasan, orang
semakin enggan untuk berinteraksi dalam pengertian face to face dengan orang
lain. Orang merasa lebih asyik dengan berlama-lama di depan layar handphone.
Apalagi seakarang media sosial seperti Facebook, Youtube, Instagram dll, menyediakan
tontonan yang menarik dari pada televisi, yang memaksa penonton untuk selalu
mengikutinya. Selanjutnya, terjadi perubahan pola interaksi, yaitu dari orang
dengan orang beralih kepada orang dengan media sosial.
Perubahan pola interaksi itu bukan tanpa ekses. peran kedua orang tua,
beralih pada media sosial. Anak Kita menjadi paham dengan yang bakal terjadi,
yaitu karena terpengaruh iklan yang ada di media sosial. Di sinilah kepribadian
anak mengalami permasalahan yang pelik. Benar bahwa fenomena di atas tidak
sepenuh- nya dialami oleh semua keluarga. Bisa jadi mereka memang bisa
berinteraksi dengan teknologi sejenisnya. Namun, tingkat perkembangan budaya
merupakan ancaman bagi proses interaksi, sosialisasi, dan pembentukan
kepribadian anak. orang tua seiring dengan semakin majunya Sejak diduga tinggal
di bumi Indonesia pada zaman prasejarah, manusia purba telah mengembangkan
kehidupan sosial. Mulai tahap sederhana, mereka telah mengembangkan pola-pola
interaksi sosial. Seiring dengan semakin majunya tingkat kebudayaan, pola
interaksi yang dikembangkan semakin kompleks pula. Hingga kini, interaksi
merupakan kunci kehidupan sosial manusia.
Pengertian Interaksi Sosial
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, interaksi
didefinisikan sebagai hal saling melakukan aksi, berhubungan, atau saling
mempengaruhi. Dengan demikian, interaksi sosial adalah hubungan timbal balik
(sosial) berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dan individu, antara
individu dan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok. Sementara itu, Gillin
mengartikan interaksi sosial sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang
menyangkut hubungan antarindividu, individu dan kelompok, atau antar kelompok.
Dalam interaksi sosial terdapat hubungan antarindividu
yang menghasilkan reaksi timbal balik. Hubungan-hubungan tersebut melahirkan
suatu pola yang menarik. Hal inilah yang mendorong para sosiolog mengkaji
masalah ini. Menurut para sosiolog. pengetahuan mengenai cara-cara berhubungan
antaranggota masyarakat dapat membantu dalam memahami masyarakat itu sendiri.
Berdasarkan kajian tersebut, ditemukan adanya proses sosial di masyarakat.
Menurut Gillin dan Gillin (Sosiolog), proses sosial
adalah cara- cara berhubungan yang dapat dilihat apabila antarindividu dan
kelompok- kelompok manusia saling bertemu kemudian menentukan sistem serta
bentuk-bentuk hubungan tersebut. Dengan begitu, hubungan-hubungan yang ada
dalam kehidupan manusia merupakan suatu proses sosial. Hal ini karena hubungan
antarindividu merupakan syarat utama terjadinya aktivitas sosial. Aktivitas-
aktivitas sosial itulah yang menjadi dasar terbentuknya proses sosial. Jika
kita mengkaji peristiwa di atas, terlihat adanya aktivitas-aktivitas orang yang
diwujudkan dalam hubungan antarmereka. Dapat disimpulkan bahwa peristiwa atau
interaksi sosial di atas merupakan suatu proses sosial.
Menurut Charles P. Loomis, sebuah hubungan bisa
disebut interaksi sosial jika memiliki eiri-ciri berikut;
1. Jumlah pelaku dua orang atau lebih.
2. Adanya komunikasi antarpelaku dengan menggunakan simbol atau lambang.
3. Adanya suatu dimensi waktu yang meliputi masa lalu, masa kini, dan masa
yang akan datang
4. Adanya tujuan yang hendak dicapai sebagai hasil dari interaksi tersebut.
Menurut Soerjono Soekanto, interaksi sosial tidak
mungkin terjadi tanpa adanya dua syarat, yaitu kontak sosial dan komunikasi.
1. Kontak sosial, bisa terjadi tanpa adanya komunikasi, tetapi tanpa
komunikasi kontak sosial tidak bermakna apa-apa dalam sebuah interaksi karena
masing-masing pihak tidak bisa saling memahami maksud dan perasaan
masing-masing
2. Komunikasi, merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Hal terpenting
dalam komunikasi yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan prilaku
(pembicaraan,gerakan-gerakan fisik, atau sikap) dan perasaan-perasaan yang
disampaikan.
Interaksi sosial sendiri menjadi salah satu
kajian penting dalam sosiologi. Beberapa tokoh sosiologi (sosiolog) mengkhususkan
diri dalam melakukan studi terhadap interaksi sosial. Untuk mempelajari
interaksi sosial, sosiolog menggunakan pendekatan tertentu yang dikenal dengan
istilah perspektif interaksionis (interactionist perspective). Salah satu
pendekatan yang terkenal dalam perspektif interaksionis adalah interaksionisme
simbolik. Kata "simbolik" mengacu pada penggunaan simbol-simbol dalam
interaksi, Simbol adalah sesuatu yang diberi nilai dan makna oleh penggunanya.
Dengan demikian, simbol yang sama dapat memiliki makna yang berbeda-beda bagi
setiap orang. Misalnya, warna putih bisa diartikan sebagai pernyataan menyerah
dalam perang atau bisa diartikan suci.
Menurut Herbert Blumer, ada tiga pokok
pikiran interaksionisme simbolik, yaitu acr, thing, dan meaning. Seseorang
bertindak (acr) terhadap sesuatu (thing) berdasarkan arti sesuatu itu bagi
dirinya (meaning). Misalnya, tindakan (act) orang Hindu di India terhadap sapi
(thing), berbeda dengan tindakan orang Islam terhadap sapi. Karena makna sapi
(meaning) bagi kedua orang itu berbeda. Menurut orang Hindu di India, sapi
adalah binatang suci, sedangkan menurut orang Islam tidak. Makna itu sendiri
muncul dari interaksi sosial. Makna itu tidak langsung diberikan atau
ditanggapi begitu saja oleh seseorang, tapi melalui proses penafsiran lebih
dulu. Contohnya, seorang gadis yang menerima ucapan salam dari seorang pemuda
di pinggir jalan tidak langsung menjawab salam tersebut. la akan menafsirkan
dulu, apakah pemuda itu berniat baik atau buruk.
W.I. Thomas (1968) juga menyatakan bahwa
seseorang tidak langsung bereaksi atau memberi tanggapan (response) terhadap
rangsangan dari luar (stimulus), tapi didahului oleh tahap penilaian atau
pertimbangan berdasarkan definisi situasi. Misalnya, pada contoh gadis dan
ucapan salam di atas. Jika gadis itu mendefinisikan bahwa pemuda di pinggir
jalan yang mengucapkan salam kepadanya tidak berniat baik, ia akan bereaksi
atau bertindak sesuai dengan definisi yang ia buat, yaitu tidak menjawab ucapan
salam tersebut.
Sosiolog lain yang memberi pemikiran
penting dalam kajian interaksi sosial adalah Erving Goffman. Menurut Goffman,
individu yang bertemu dengan orang lain akan mencari informasi tentang orang
tersebut agar ia dapat mendefinisikan situasi. Dalam pertemuan itu,
masing-masing pihak, sengaja atau tidak, membuat pernyataan (ekspresi) agar
pihak yang lain terkesan (impresi). Usaha mempengaruhi kesan orang lain ini
disebut Goffman sebagai pengaturan kesan (impression management).
Goffman membedakan ekspresi dalam dua
macam, yaitu ekspresi yang diberikan dan ekspresi yang dilepaskan. Ekspresi
yang diberikan (expression given) adalah pernyataan yang dimaksudkan untuk
memberi kesan atau informasi sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku atau
pernyataan itu memang biasa dilakukan. Sementara itu, ekspresi yang dilepaskan
(expression given off adalah pernyataan yang mengandung informasi, yang menurut
orang lain memunculkan ciri tertentu dari si pembuat ekspresi. Misalnya, orang
yang diberi pertolongan selayaknya mengucapkan terima kasih. Tetapi, ada orang
yang mengucapkan terima kasih dengan berwajah masam. Ucapan terima kasih adalah
ekspresi yang diberikan, sedangkan wajah masam adalah ekspresi yang dilepaskan
yang dapat menunjukkan perasaan orang itu sebenarnya.
Interaksi sosial menjadi sangat penting
dalam kehidupan sosial. Dari interaksi antarindividu, individu dan kelompok,
dan antarkelompok akan tumbuh jalinan kerja sama, saling membutuhkan, dan
saling pengertian yang sangat penting dalam mewujudkan kehidupan bersama yang
dinamis. Interaksi sosial adalah bentuk umum proses sosial, di mana individu
dan kelompok mengembangkan cara-cara berhubungan dengan individu dan kelompok
lain. Mereka saling bertemu dan menentukan sistem dan bentuk-bentuk hubungan
yang dipakai. Mereka juga menentukan hubungan apa yang akan terjadi jika ada
perubahan yang dapat mengganggu pola kehidupan yang telah ada. Dalam proses
sosial ini, ada pengaruh timbal balik antara berbagai aspek dalam masyarakat,
misalnya, pengaruh timbal balik antara sosial dan polĂtik, ekonomi dan politik,
atau ekonomi dan hukum. Dari proses sosial ini, akan berkembang
aktivitas-aktivitas sosial yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat.
Secara umum, interaksi sosial dapat terjadi
antara individu dan individu, individu dan kelompok, serta kelompok dan
kelompok. Interaksi antara individu dan individu dapat bersifat positif maupun
negatif. Bersifat positif artinya saling menguntungkan, sedangkan bersifat
negatif artinya merugikan salah satu pihak atau keduanya (bermusuhan). Contoh
interaksi yang positif adalah kegiatan seorang ibu membantu anaknya belajar.
Contoh interaksi yang negatif adalah peperangan atau perkelahian antara dua
kelompok atau negara.
Interaksi sosial antara individu dan
kelompok misalnya terjadi antara seorang pelatih sepak bola dengan para
pemainnya. Ketika hendak bertanding, pelatih menerangkan strategi bertanding,
sedangkan para pemain mendengarkan sambil sesekali bertanya dan mengajukan
usulan. Demikian pula interaksi antara guru dan murid-muridnya. Dalam interaksi
antara individu dan kelompok ini dapat terjadi pula interaksi sosial
antarindividu, misalnya pemain sepak bola yang satu dengan pemain lain membahas
keterangan dari pelatih.
Interaksi sosial antara kelompok dan
kelompok misalnya tampak saat persatuan pemuda dari berbagai daerah bertemu
untuk membahas acara kongres pemuda nasional. Tiap kelompok akan mengajukan
saran tentang jenis-jenis acara yang ingin mereka tampilkan. Pada umumnya,
interaksi sosial antarkelompok tidak berhubungan dengan kepentingan pribadi
atau kepentingan individu sebagai anggota kelompok.
Interaksi sosial juga bisa terjadi meskipun
orang yang saling bertemu muka tidak saling berbicara secara verbal (bicara
dengan bahasa lisan) atau sengaja saling menukar tanda-tanda. Hal ini
disebabkan masing-masing orang tersebut saling menyadari keberadaan pihak lain
yang dapat menyebabkan perubahan dalam hal perasaan dan syaraf. Contoh, bau
keringat, minyak wangi, atau suara sepatu orang yang sedang berjalan. Semuanya
akan menimbulkan kesan di dalam pikiran seseorang yang akan menentukan tindakan
apa yang akan dilakukannya, seperti menutup hidung ketika tercium bau keringat
atau menoleh dan mencari tahu dari mana asal suara sepatu.
Faktor-faktor pendorong Interaksi Sosial
Interaksi sosial kelihatannya sederhana.
Orang bertemu lalu berbicara atau sekadar bertatap muka. Padahal sebenarnya
interaksi sosial merupakan suatu proses yang cukup kompleks. Interaksi ini
dilandasi oleh beberapa faktor psikologi, yaitu imitasi, sugesti, identifikasi,
simpati, dan empati. Faktor-faktor itu dapat berdiri sendiri-sendiri, atau
dapat juga bersama-sama berfungsi sebagai dasar terjadinya interaksi sosial.
Hal itu tergantung pada situasi dan kondisinya.
1. Imitasi
Imitasi adalah suatu tindakan meniru orang lain.
Imitasi atau perbuatan meniru bisa dilakukan dalam bermacam-macam bentuk.
Misalnya, gaya bicara, tingkah laku, adat dan kebiasaan, pola pikir, serta apa
saja yang dimiliki atau dilakukan oleh seseorang. Namun demikian, dorongan
seseorang untuk meniru orang lain tidaklah berjalan dengan sendirinya. Perlu
ada sikap menerima, sikap mengagumi, dan sikap menjunjung tinggi apa yang akan
diimitasi itu.
Menurut Dr. A.M.J. Chorus, ada syarat yang harus
dipenuhi dalam mengimitasi, yaitu adanya minat atau perhatian terhadap obyek
atau subyek yang akan ditiru, serta adanya sikap menghargai, mengagumi, dan
memahami sesuatu yang akan ditiru. Contoh imitasi terdapat pada kegiatan
seorang anak melihat ayahnya menyetir mobil. Tanpa diajari, anak itu
berlari-lari sambil kedua tangannya menirukan gerakan seolah-olah tengah
menyetir mobil. Imitasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses
interaksi sosial. Imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi norma-norma
dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Contohnya, seorang anak akan meniru
orang dewasa menyeberang lewat jembatan penyeberangan. Namun demikian, imitasi
juga dapat mengakibatkan sesuatu yang negatif jika tindakan yang ditiru adalah
tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai dan norma- norma yang berlaku di
masyarakat. Contohnya, seorang pemuda meniru ayahnya yang mabuk atau seorang
pelajar meniru temannya yang membolos sekolah.
2. Sugesti
Faktor sugesti berlangsung jika seseorang menerima
suatu pandangan atau sikap yang berasal dari dirinya, atau sikap orang lain dan
diterima oleh orang lain. Proses ini sebenarnya hampir sama dengan imitasi akan
tetapi titik tolaknya berbeda. Berlangsungnya proses sugesti dapat terjadi
karena pihak penerima dalam keadaan tidak stabil emosinya sehingga mengganggu
pikiran rasionalnya. Misalnya, orang yang sedang dirundung masalah yang besar,
memiliki kesempatan pula untuk dipengaruhi oleh orang lain.
Pengaruh tersebut dapat berlangsung secara positif
atau justru sebaliknya bersifat negatif.
a. Tindakan Positif Sugesti yang diberikan dapat membantu meringankan beban
masalah yang sedang diderita. Proses ini dapat berlangsung melalui bantuan
berupa material maupun nonmaterial. Secara material, misalnya saling berbagi di
antara teman atau memberikan bantuan dana kepada yang membutuhkan jika mampu.
Secara nonmaterial, misalnya memberikan alternatif jalan keluar kepada seorang
yang sedang mendapat masalah.
b. Tindakan Negatif Sugesti yang diberikan dapat mengarahkan sescorang
untuk mengakhiri permasalahan dengan jalan pintas. Contoh sugesti, yaitu: meminum
minuma
3. Identifikasi
Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan
seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain (meniru secara keseluruhan).
Identifikasi sifatnya lebih mendalam dibandingkan imitasi karena dalam proses
identifikasi, kepribadian seseorang bisa terbentuk. Orang melakukan proses identifikasi
karena seringkali memerlukan tipe ideal tertentu dalam hidupnya. Contoh
identifikasi terdapat pada seorang anak yang mengidolakan ayahnya. Ia berusaha
mengidentifikasi dirinya seperti ayahnya karena sikap, perilaku, dan nilai yang
dimiliki oleh ayahnya merupakan tipe yang ideal dan dapat berguna sebagai
penuntun hidupnya.
Proses identifikasi dapat berlangsung secara sengaja
dan tidak sengaja. Meskipun tanpa sengaja, orang yang mengidentifikasi tersebut
benar-benar mengenal orang yang ia identifikasi sehingga sikap atau pandangan
yang diidentifikasi benar-benar meresap ke dalam jiwanya. Contoh, biasanya
pemain bulu tangkis junior punya pemain idola. Setiap idolanya bertanding, dia
akan mengamati secara cermat bagaimana gaya dan strategi bermain idolanya
tersebut. Kemudian ia meniru dan yakin bisa menjadi seperti idolanya.
4. Simpati
Simpati merupakan suatu proses di mana seseorang
merasa tertarik kepada pihak lain. Melalui proses simpati, orang merasa dirinya
seolah-olah berada dalam keadaan orang lain dan merasakan apa yang dialami,
dipikirkan, atau dirasakan orang lain tersebut. Dalam proses ini, perasaan
memegang peranan penting walaupun alasan utamanya adalah rasa ingin memahami
dan bekerja sama dengan orang lain. Contoh, ketika ada tetangga yang sedang
tertimpa musibah, kita ikut merasakan kesedihannya dan berusaha untuk
membantunya. Pada umumnya, simpati lebih banyak terlihat pada hubungan teman
sebaya, hubungan ketetanggaan, atau hubungan pekerjaan.
5. Empati
Empati merupakan simputi mendalam yang dapat
mempengaruhi kejiwaan dan fisik seseorang. Contohnya, seorang ibu akan merasa
kesepian ketika anaknya yang bersekolah di luar kota. Ia selalu rindu dan
memikirkan anaknya tersebut sehingga jatuh sakit. Contoh lain, seorang pria
baru saja menjenguk keluarganya yang mengalami kecelakaan. Orang tersebut
kemudian jatuh sakit karena selalu membayangkan dan memikirkan kejadian yang
menimpa keluarganya.
Faktor-faktor yang diuraikan di atas (imitasi,
sugesti, identifikasi, simpati, empati) merupakan faktor minimal yang menjadi
dasar proses interaksi sosial. Simpati, empati, dan identifikasi lebih dalam
pengaruhnya, namun prosesnya agak lambat jika dibandingkan dengan sugesti dan
imitasi. Sugesti dan imitasi pengaruhnya kurang mendalam, namun prosesnya
berlangsung cepat. Kelima faktor tersebut, cenderung berasal dari satu pihak
individu atau bersifat psikologis.
Kesimpulan dan Saran
Interaksi sosial adalah proses sosial yang menyangkut
hubugan timbal balik antarindividu, individu dengan kelompok, dan kelompok
dengan kelompok. Menurut Gillin dan Gillin (Sosiolog), proses sosial adalah
cara- cara berhubungan yang dapat dilihat apabila antarindividu dan kelompok-
kelompok manusia saling bertemu kemudian menentukan sistem serta bentuk-bentuk
hubungan tersebut. Dengan begitu, hubungan-hubungan yang ada dalam kehidupan manusia
merupakan suatu proses sosial. Interaksi sosial terbentuk jika memenuhi dua
syarat yaitu kontak sosial dan komunikasi.
Komunikasi terjadi ketika seseorang memberikan
penjelasan pada prilaku orang lain tentang perasaan-perasaan yang akan
disampaikan oleh orang tersebut. Interaksi sosial adalah bentuk umum dari
proses sosial yang merupakan hubungan-hubungan sosial yang bersifat dinamis.
Berlangsungnya proses interaksi sosial didasarkan atas faktor imitasi. sugesti,
identifikasi, simpati dan empati.
Individu yang tidak berhasil dalam proses sosialisasi dinamakan dengan istilah
social deviant. Mereka akan dikenakan sanksi oleh norma yang berlaku di
kelompoknya. Proses sosialisasi dan interaksi sosial berlangsung sepanjang umur
hidup manusia, hal ini terjadi karena pada hakikatnya manusia merupakan makhluk
sosial (human social).
Oleh karena itu hendaknya masyarakat dapat menyadari
bahwa sebagai makhluk sosial berdiri sendiri dalam artian perlu berhubungan
dengan individu ataupun kelompok lain.
Daftar Rujukan
Kun Maryati
dan Juju Suryawati. 2006. Sosiologi. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.
Mamat Ruhumat, dkk. 2006. Ilmu Pengetahian sosial.
Jakarta: Grafindi Media Pratama.
Waluyo M, dkk. 2008. Ilmu Pengetahian sosial. Jakarta:
PT. Gramedia.

Komentar
Posting Komentar